Sains Bukan Segalanya, Debat Panas Kitab Kuning vs Saintisme Mengguncang Jagat Intelektual

Sains Bukan Segalanya, Debat Panas Kitab Kuning vs Saintisme Mengguncang Jagat Intelektual

LAMPUNG SELATAN - Pernahkah Anda berpikir bahwa sains modern ternyata punya titikbuta fatal? Pengamat intelektual Raffi Fazly Rananda Gelar Raden Prawiranegara dari Kesultanan Palembang secara blak-blakan membongkar mitos saintisme—sebuah doktrin berbahaya yang menuhankan data dan sains sebagai satu-satunya pemegang monopoli kebenaran mutlak di muka bumi. (9/9/2026) 

Di tengah gempuran era digital yang mendewa-dewakan angka, sebuah narasi sesat kerap menyebut kitab kuning sekadar tumpukan kertas usang berisi hafalan kaku. Namun, anggapan miring itu langsung dihempas mentah-mentah! Tradisi intelektual Islam ternyata jauh lebih dinamis dari yang dibayangkan, sarat dengan instrumen hukum tajam seperti ijtihad, qiyas, ‘urf, istiṣlāḥ, hingga dialektika filosofis yang sangat progresif.

Jangan keliru, kehebatan sains dalam membedah mekanika alam semesta memang tak terbantahkan. Akan tetapi, di sinilah letak ironi terbesarnya: laboratorium paling canggih sekalipun tidak pernah bisa merumuskan makna hidup, tujuan eksistensial, atau orientasi moral manusia.

Sebaliknya, kitab kuning hadir mengisi ruang kosong tersebut sebagai kompas etika dan moralitas tertinggi. Tentu saja, ia bukan manual teknis instan untuk merakit roket atau memecahkan algoritma kuantum modern. Masing-masing punya teritori kekuasaan yang mutlak tidak boleh saling mencaplok. 

Peringatan keras juga dialamatkan bagi para pemuja data mentah. Faktanya, data tidak pernah murni berbicara sendiri. Di balik setiap angka statistik terselubung bias metode, asumsi subyektif, variabel tersembunyi, dan kepentingan manusia yang menafsirkannya.

Pesan intinya sangat jelas dan menohok: setop mempertentangkan secara dikotomis antara kitab kuning dan sains modern. Ulama dan ilmuwan sama-sama manusia biasa yang rentan salah, keduanya wajib diletakkan dalam koridor kritik permanen, tanpa ada ruang sedikit pun untuk kultus individu