Darurat Ruang Suara! Diskusi “September Hitam” Guncang Kalianda, dan Bongkar Luka Sejarah
LAMPUNG SELATAN — Ruang publik di Kalianda, Lampung Selatan, mendadak panas. Di tengah kepungan apatisme zaman, secercah nyali dihidupkan lewat diskusi publik bertajuk “September Hitam: Kami Menolak Lupa, Kami Menolak Buta” di Bornbone Coffee, Senin malam (21/9/2026).
Bukan sekadar ngopi malam biasa, forum ini sukses mempertemukan puluhan mahasiswa, anak muda, hingga elemen masyarakat sipil untuk menguliti isu Hak Asasi Manusia (HAM), demokrasi, dan nyali warga yang sering ciut demi bersuara.
Nama September Hitam bukan sekadar tajuk, melainkan pengingat luka lama bangsa yang belum kering. Forum ini kembali menyeret publik pada tragedi pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib (September 2004) hingga pembantaian keji petani dan aktivis lingkungan Salim Kancil (September 2015).
Tak hanya itu, diskusi juga merangsek masuk ke wilayah sensitif: rangkaian kekerasan dan penahanan massal era 1965–1966. Penyelenggara menegaskan, mengungkit duka ini bukan berarti menanam kebencian, melainkan menyalakan alarm agar tragedi kemanusiaan serupa tak pernah terulang.
“Kita tidak boleh menjadi generasi yang hanya tahu nama-nama tragedi, tetapi buta terhadap akarnya. Munir, Salim Kancil, dan luka 1965 harus tetap hidup dalam ingatan agar sejarah tidak kembali menelan mereka yang memilih bungkam,” tegas Founder Kita Bersuara, Pandu Sang Bintang.
Menghadirkan narasumber dari YLBHI-LBH Bandar Lampung serta konten kreator lokal Ummu Hani, diskusi langsung menohok realitas akar rumput hari ini. Faktanya, banyak warga memilih diam bukan karena tak punya masalah, melainkan karena buta hukum dan tidak tahu cara mengadu yang benar.
Miskonsepsi HAM: Banyak yang mengira HAM adalah isu elitis milik aktivis Jakarta, padahal bersinggungan langsung dengan hak hidup sehari-hari.
Defisit Keberanian: Warga kerap ragu bersuara karena takut kriminalisasi akibat minimnya literasi aturan main penyampaian aspirasi.
Namun, forum ini membalikkan keadaan. Peserta disadarkan bahwa nyali bersuara tak melulu turun ke jalan membawa spanduk. Keberanian sejati bisa dimulai dari hal mendasar: tahu hak konstitusional, berani bertanya, menguji fakta, hingga melayangkan kritik berbasis data.
Antusiasme pecah di ruang diskusi. Sejumlah peserta mengaku baru tersadar betapa dekatnya isu HAM dengan keseharian mereka.
“Selama ini saya kira HAM itu urusan hukum yang jauh. Setelah ikut forum ini, baru sadar banyak hak keseharian kita yang dirampas tapi kita diam saja karena tidak tahu,” ungkap salah satu peserta dengan nada geram.
Antitesis dari ketakutan itu kini mulai tumbuh. Komunitas Kita Bersuara bertekad menjadikan ruang-ruang diskusi serupa sebagai pabrik pencetak warga yang cerdas secara hukum dan politik.
Demokrasi, pada akhirnya, bukan sekadar hiruk-pikuk pemilu. Demokrasi butuh masyarakat yang melek hak, tahu kapan harus melawan, dan cerdas menyuarakan kebenaran. Kalianda telah memulai nyala api itu: Menolak Lupa, Menolak Buta!