Di Balik Kemegahan Muli Mekhanai Lamsel 2026: 'Salah Tulis Nama' Hingga Undangan PDF Dadakan Tuai Kritik Pedas
LAMPUNG SELATAN – Perhelatan Muli Mekhanai Lampung Selatan (Lamsel) 2026 memang sukses menyedot perhatian dengan panggung megahnya. Namun, di balik lampu kristal dan balutan busana mewah, ajang bergengsi ini justru meninggalkan "rapor merah" dan gelombang kritik tajam dari berbagai pihak.
Pemerhati Budaya Lampung Selatan, Ruslando Temunggung Tongkok Podang, membongkar sederet kebobrokan teknis yang dinilai mencederai marwah budaya daerah. Tak tanggung-tanggung, ia mendesak Dinas Pariwisata untuk melakukan evaluasi total.
Salah satu poin paling memalukan yang disoroti adalah kesalahan penulisan kata "Mekhanai" pada materi promosi. Bagi Ruslando, ini bukan sekadar masalah teknis, melainkan penghinaan terhadap identitas budaya.
"Dinas Pariwisata harus evaluasi total! Melibatkan seniman dan budayawan lokal itu wajib, supaya kesalahan fatal seperti salah tulis kata 'Mekhanai' tidak terulang. Ini masalah identitas kita!" tegas Ruslando
Pemilihan lokasi Grand Final di kawasan privat Grand Elty Kalianda juga memicu polemik. Meski diklaim gratis, lokasinya yang jauh dari pusat kota dianggap memutus akses rakyat jelata untuk ikut berpesta.
Ruslando juga mempertanyakan jargon "Efisiensi Anggaran" yang kerap didengungkan pemerintah daerah.
Kontradiksi Nyata, Di satu sisi bicara hemat, di sisi lain acara digelar mewah di lokasi privat.
Akses Terbatas, Masyarakat desa sulit menjangkau lokasi dibandingkan jika digelar di jantung kota Kalianda.
Minimnya keterlibatan pemuda desa dari pelosok kecamatan disinyalir akibat promosi yang hanya "main di permukaan". Ruslando mengusulkan dobrakan baru agar anggaran Dana Desa dan kecamatan dialokasikan untuk mendukung putra-putri daerah bertarung di ajang ini.
"Kita butuh inovasi, bukan sekadar memakai pola lama yang itu-itu saja," imbuhnya.
Puncak kekecewaan publik meledak saat menyangkut perlakuan terhadap tokoh adat. Ironisnya, undangan untuk para petinggi adat hanya dikirimkan melalui format PDF via WhatsApp, dua jam sebelum acara dimulai.
Yang menjadi Catatan Hitam kali ini terkait Waktu mengundang jam 17.00 WIB, Waktu Acara Jam 19.00 WIB, bentuk undangan pun File PDF (Tanpa undangan fisik/formal).
"Sangat tidak elok, Harusnya minimal dua hari sebelumnya. Tokoh adat itu butuh persiapan" Tutup Ruslando kecewa.