Megawati "Meledak" di Ruang Kebangsaan: Hukum Kita Sedang Diobrak-abrik

Megawati "Meledak" di Ruang Kebangsaan: Hukum Kita Sedang Diobrak-abrik

JAKARTA – Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, memberikan pernyataan menohok dalam forum pengukuhan Prof. Dr. Arief Hidayat sebagai Profesor Emeritus pada Sabtu (2/5/2026). Tak sekadar ucapan selamat, Megawati memanfaatkan momentum tersebut untuk "menelanjangi" kondisi hukum Indonesia yang dinilainya telah kehilangan ruh keadilan.

Dengan nada bicara penuh keprihatinan, Megawati menyoroti fenomena hukum formal yang kini hanya menjadi alat bagi segelintir pihak. Ia menyebut istilah "Keadilan yang Tidak Berkeadilan" untuk menggambarkan betapa jauhnya praktik hukum saat ini dari nurani.

"Hukum formal bukan sekadar disiplin ilmu, tapi medan perjuangan. Saya prihatin melihat mereka yang menjalankan hukum. Kenapa caranya begitu?" cetus Megawati di depan para pakar hukum.

Megawati kembali membuka memori kelam sejarah demokrasi Indonesia, yakni peristiwa Kuda Tuli (27 Juli 1996). Ia mengenang bagaimana kantor DPP PDI di Diponegoro diserbu secara brutal meski ia telah memastikan legalitas partainya kepada Mendagri kala itu.

Ia mengkritik keras mandulnya proses hukum koneksitas (sipil-militer) yang hingga kini tak pernah tuntas.

"Saya bukan provokator, Saya cinta negara ini, tapi saya tidak mau negara ini diobrak-abrik oleh orang yang hanya haus kekuasaan" tegasnya berapi-api.

Kritik tajam Megawati tidak berhenti pada sejarah masa lalu. Ia mempertanyakan logika hukum dalam kasus terbaru, yakni seorang anak yang menjadi korban penyiraman air keras namun kasusnya justru diseret ke pengadilan militer.

" Saya prihatin sekali melihat hukum formal kita pada masalah anak yang disiram air keras, saya lihat dan saya ga akan sebut namanya, ini kok lucu ya, dan ini pertanyaan untuk para orang pintar hukum. sebenarnya kalau seperti itu apakah pengadilan harus pengadilan militer atau pengadilan sipil?" Tanya Megawati kepada para akademisi yang hadir

"Apakah boleh korban meminta pengadilan yang diinginkan? Kok tiba-tiba masuknya ke pengadilan militer?" Sambung Megawati dengan heran

Menutup pernyataan kritiknya pada persoalan tersebut, Megawati memberikan pesan emosional tentang filosofi "Nisan Tanpa Nama" di Taman Makam Pahlawan hingga pemakaman pejuang lainnya, Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan dan jabatan yang dinikmati para elit saat ini adalah buah dari darah para pejuang, bahkan hingga namanya terdapat yang tidak tercatat.

"Kalian bisa seperti ini karena mereka. Jangan sampai hukum hanya tajam ke rakyat kecil, disabilitas, atau mereka yang terpinggirkan. Konstitusi menjamin setiap warga negara punya hak yang sama di mata hukum" pungkasnya.

(Ben)