Wagub Jihan Tantang Kader PMII Lampung Jadi "Alarm" Sekaligus Mesin Pembangunan

Wagub Jihan Tantang Kader PMII Lampung Jadi "Alarm" Sekaligus Mesin Pembangunan
Fajrun Najah Ahmad "Fajar" (Putra Pendiri PMII) menyerahkan potongan tumpeng kepada Wagub Jihan, di kelilingi Pengurus dan Alumni PMII Lampung

LAMPUNG – Gedung K FKIP Unila mendadak "biru kuning" membara pada Minggu (19/4/2026) siang. Bukan sekadar temu kangen biasa, acara Hajatan Akbar dan Halal Bihalal Kader PMII Lintas Zaman ini jadi panggung bagi Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, untuk membakar semangat para junior dan seniornya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Jihan, yang notabene adalah "alumni" Fakultas Kedokteran Unila dan tumbuh besar di rahim PMII, menegaskan bahwa jabatan atau atribut organisasi nggak bakal ada gunanya kalau nggak dirasakan rakyat.

"Sekarang bukan zamannya cuma wacana. Kader PMII harus aksi nyata, Kita punya banyak program pemerintah yang bisa dikolaborasikan dengan nafas pergerakan kita," seru Jihan di depan sekitar 800 kader yang memadati ruangan.

Wagub milenial ini secara terang-terangan meminta PMII Lampung berdiri di barisan paling depan. Yang bertugas : Mendukung penuh percepatan ekonomi di bawah komando Gubernur Rahmat Mirzani Djausal, namun menjadi mata dan telinga masyarakat untuk mengawasi setiap rupiah dan kebijakan pembangunan agar tidak melenceng.

"Pak Gubernur cuma punya satu niat: Lampung maju. Jadi, kita wajib dukung total, tapi tetap dengan mata terbuka," tambah Jihan.

Suasana sempat makin seru saat Fajrun Najah Ahmad, Ketua Mabinda PMII Lampung, naik ke podium memberikan refleksi Harlah PMII ke-66. Sosok yang akrab disapa Fajar ini mengingatkan bahwa kader PMII tidak boleh tercerabut dari denyut nadi rakyat kecil

Fajar melempar pesan pedas tapi bergizi bahwa dukungan ke pemerintah harus fair, Kalau bagus Dukung sampai tuntas, Kalau melintir Kritik habis-habisan

"Kalau ada program yang tidak bermanfaat atau malah bikin masalah, kader PMII harus tegas mengkritisi. Tapi ingat, beri solusi, bukan cuma teriak," tegas putra pendiri PMII, KH Nuril Huda ini. Ia juga menyentil para pejabat di Lampung agar jangan baperan alias alergi terhadap kritik.

Acara ini bukan cuma seremoni potong tumpeng. Sesi penyampaian aspirasi sempat bikin suasana gerah karena banyaknya unek-unek dari para alumni lintas zaman. Meski tensi sempat naik, dinamika itu berakhir happy ending karena semua sepakat demi marwah organisasi.

Sederet tokoh penting Lampung tampak hadir pulang kandang, Hairi Fasyah, Zulkarnain Ali, Bustami Zainudin, Aryanto Munawar, Mudai Yunus, Syahrudin Putra, Saipul, Hidir Ibrahim, Maksum Abrori, Mursaidin Albantani, Mutakin, Wawan Sah, Khaidir Bujung, Jufri Karim, Arif Suhaimi, Jauharoh Hadad, Ela Siti Nuryamah, Erlina, dan masih banyak lagi lainnya, hingga para Ketua Mabincab PMII se-Lampung.

Selain itu, hadir juga para alumni yang saat ini menjadi legislator, seperti Fatikhatul Khoiriyah, Ahmad Basuki, Budi Hadi Yunanto, Munir Abdul Haris, Yudi Suprayoga, dan Darma Setiawan. Pun kader yang menjadi Komisioner KPU dan Bawaslu se-Lampung.

Ketua PKC PMII Lampung, Muhammad Yusuf Kurniawan, menutup acara dengan rasa syukur yang mendalam. Baginya, melihat kader lintas generasi duduk satu meja adalah bukti bahwa mesin pergerakan di Lampung masih sangat panas dan solid.

Sebagai simbolis syukur Harlah ke-66, tumpeng pun dipotong. Fajar menyerahkannya kepada Wagub Jihan, sementara Yusuf Kurniawan menyerahkannya kepada Saipul (Kepala Bapenda Lampung) sebagai simbol estafet pengabdian dari organisasi ke birokrasi.

(***)