Soal Masuk Angin
“Adek, kok sampai item gitu sih badannya dikerikin. Itu namanya masuk angin kasep,” kata Dinda melalui videocall setelah melihat foto Gilang yang sedang urut dan dikerik badannya di grup WhatsApp keluarga inti, pagi tadi.
“Makanya adek urut dan kerikan, mbak. Sejak kemarin badan adek rasanya nggak enak bener. Nggak tahunya emang masuk angin berat gini,” sahut Gilang sambil meneguk air di dalam gelas yang ada ditangannya.
“Itu minum apa, dek?” tanya Dinda dengan cepat.
“Air anget dicampur tolak angin cair, mbak!” sahut Gilang.
“O gitu, bagus itu, dek. Sudah dikerik badannya lanjut minum air dikasih tolak angin, inshaAllah segera normal lagi kondisi adek. Emang kenapa sih bisa masuk angin kasep gitu, kayaknya selama ini nggak pernah deh sampai separah itu,” ucap Dinda.
“Adek kan beberapa hari ini banyak di ruangan AC aja, mbak,” jawab Gilang.
“Maksudnya..?” sela Dinda.
“Kan pas BJJ –belajar jarak jauh- seminggu ini adek di rumah Bulek. Kamar buat adek tinggal, hidup terus AC-nya. Kayaknya ya itu penyebabnya, mbak,” jelas Gilang.
“Lha, kan adek dari kecil juga sudah biasa sama kamar ber-AC. Kamar adek aja dinginnya buat mbak ngegigil kalau lebih dari 20 menit diem disitu,” tanggap Dinda.
“Mbak lali yo, hampir setahun ini kan adek tinggal di asrama, yang nggak ber-AC. Kali badan adek ngaget gitu lama-lama di ruang AC. Makanya sampai masuk angin kasep gini,” jawab Gilang, seraya tersenyum.
“O iya juga ya. Adek kan di asrama nggak pakai AC. Masuk akal kalau akhirnya masuk angin parah gini. Emang sesuatu yang nggak biasa itu sering bikin badan jadi nggak karuan dan perlu waktu juga buat nyesuaiinnya, dek,” kata Dinda lagi.
“Lagian, sebenernya banyak juga yang sekarang ini masuk angin, mbak. Dalam arti luas lo, nggak kayak adek gini,” ujar Gilang, setelah menghabiskan air minum bercampur tolak angin.
“Maksudnya opo, dek?” tanya Dinda.
“Iya, istilah masuk angin itu sekarang lagi ngenain banyak orang karena perilakunya dianggep nggak lazim, mbak,” sahut Gilang.
“Contohnya kayak mana, dek?” tanya Dinda lagi.
“Misalnya, keputusan BNNP Lampung yang kasih sanksi rehab jalan buat pengusaha-pengusaha muda sukses yang positif pakai ekstasi tanpa proses sesuai aturan undang-undang, kan munculin asumsi di publik kalau BNNP sudah masuk angin,” jelas Gilang.
“Ini kata masuk angin dikategoriin sebagai indikasi terima sesuatu gitu ya, maka keputusan BNNP-nya cuma rehab jalan. Maksudnya gitu ya, dek,” tanggap Dinda.
“Iya, maksudnya gitu, mbak. Ada lagi soal masuk angin yang lebih parah. Ngejurus ke dugaan penjualan aset orang lain yang diaku punya dia, dan nggak jelas penanganannya. Padahal itu ngelibatin kewibawaan pemerintah,” lanjut Gilang.
“Masalah apa itu, dek?” tanya Dinda, mengernyitkan dahinya.
“Kasus dugaan penjualan lahan punya warga Rejomulyo, Pasir Sakti, Lampung Timur, yang diaku punya PT Wahana Raharja itu, mbak. Bohonglah kalau bos-bos di Pemprov Lampung nggak tahu masalahnya, tapi kan didiemin aja. Jangan-jangan, diemnya mereka karena masuk angin juga,” jelas Gilang.
“Iya juga sih, aneh emang persoalan itu, dek. Kayaknya bos-bos emang ngerestui adanya perbuatan itu,” celetuk Dinda.
“Bisa aja karena mereka juga sudah masuk angin, mbak. Makanya limbung badannya mau bersikap kayak mana,” tanggap Gilang sambil tertawa.
“Bisa jadi gitu, dek. Lagian yang aneh, masak perusahaan daerah yang terus-terusan rugi malah mati-matian dipertahanin. Kan sama aja ngebuang garem ke laut. Padahal jelas-jelas ngebebani keuangan,” ucap Dinda.
“Itu yang aneh bin ajaib emang, mbak. Dan semua orang yang waras badan dan pikirannya alias nggak masuk angin, pasti tahu ngebauin adanya sesuatu dibalik mertahanin itu semua. Perusahaan terus-terusan rugi kok dipertahanin,” kata Gilang.
“Soal PT WR ini, semalem Guru Besar fakultas mbak, Prof Hamzah, ngirim chat gini, dek: Saya tidak pernah belajar hukum perusahaan dari S1 sampai S2 -5 tahun plus 2 tahun plus 6 tahun- yang mengajarkan bahwa tujuan pendirian perusahaan untuk mencari kebangkrutan, yang ada itu tujuan perusahaan mencari keuntungan,” kata Dinda.
“Terus apalagi kata Guru Besar fakultas mbak?” tanya Gilang, penasaran.
“Beliau nulis lagi: Bangkrut kata sederhananya pernyataan gelik modal. Kalau terus-terusan bangkrut, ini yang saya bilang lolok alias balur = balak lugur,” sambung Dinda, dan ketawa ngakak.
“Hebat penilaian Guru besar fakultas mbak itu. Tuntas dan vulgar. Buat orang-orang yang nggak masuk angin di urusan PT Wahana Raharja apa yang disampein itu, bakal bikin senyum, ekspresi membenarkan. Tapi bagi yang sudah masuk angin, bakal nyari selimut buat nutupin badannya, biar ngegigilnya nggak keliatan orang,” ujar Gilang, juga sambil tertawa. (Dalem Tehang)