Mahasiswa BEM PTNU Wilayah Lampung Jalin Silaturahmi Terhadap Masyarakat Adat Marga Keratuan Menangsi
Lampung Selatan – Para Rombongan Mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (BEM PTNU) Wilayah Lampung bersama perwakilan Pengurus Nasional dari organisasi yang sebagai wadah bagi mereka dalam menyalurkan ide dan gagasannya, kemudian secara bersama-sama melakukan kunjungan guna menjalin silaturahmi ke Marga Keratuan Menangsi.
Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa Marga Keratuan Menangsi adalah bagian dari salah satu marga adat lampung yang pusat pemerintahan adatnya berada di Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Acara kunjungan itu berlangsung di rumah adat (Lamban Khanggal) Marga Keratuan Menangsi yang disambut hangat oleh Pangeran Cahya Marga selaku Sai Batin Marga Keratuan Menangsi, bersama perangkat adat, paksi segekhi suku , bahatur, punggawa, hingga Kepala Desa Taman Baru Bapak Azhari gelar Batin Galih, beserta jajaran aparatur desa nya, dan juga tokoh pemuda setempat.
Dalam sambutannya, Koordinator Wilayah BEM PTNU Lampung, Sabila, menyampaikan terima kasih kepada seluruh masyarakat adat Marga Keratuan Menangsi, Pemerintah Desa Taman Baru, dan tokoh pemuda yang telah menerima kedatangan mereka dengan penuh kehangatan. Menurutnya, silaturahmi ini bukan hanya sekadar pertemuan semata, melainkan menjadi langkah awal untuk memperdalam pemahaman tentang adat istiadat, sejarah, dan budaya Lampung
Ia juga menginformasikan bahwa kepengurusan BEM PTNU wilayah Lampung baru terbentuk secara mandiri setelah sebelumnya masih tergabung dalam satu kepengurusan se-Sumatra.
Pangeran Cahya Marga, selaku Sai Batin Marga Keratuan Menangsi, pada sambutannya menyatakan bahwa ia sangat mengapresiasi dengan adanya kunjungan para mahasiswa dari BEM PTNU Wilayah Lampung. ia juga menegaskan terlibatnya generasi muda dalam memahami adat, budaya, dan sejarah merupakan bekal amat penting untuk menjaga kelestarian identitas Lampung di tengah arus perkembangan zaman. Pada hari sabtu (6/9/2025)
Foto Penyerahan Cinderamata oleh Pangeran Cahya Marga terhadap Mahasiswa BEM PTNU
Dalam rangkaian acara itu, para tokoh adat memaparkan sejarah singkat bahwa Ratu Menangsi yang kemudian para keturunan atau keluarga besarnya saat ini bernaung dalam Marga Keratuan Menangsi ialah berasal dari Keratuan Balaw (kini berlokasi di Kedamaian, Bandar Lampung) sebagai tempat asalnya sebelum Ratu Menangsi bermukim di Desa Taman Baru, Penengahan, Lampung Selatan.
Dalam pemaparan singkat disampaikan juga bahwa Marga Keratuan Menangsi memiliki banyak peninggalan sejarah, antara lain makam keramat Ratu Menangsi, puluhan makam leluhur yang tersebar hingga kaki Gunung Rajabasa, serta benteng-benteng yang kemudian sebagai peninggalan pada masa Keratuan Menangsi seperti Benteng Raja Gipih, Benteng Kenali, Benteng Kedagaan, dan Benteng Merambung.
Dimasa sekarang ini, wilayah Benteng Raja Gipih telah menjadi pemukiman warga, khususnya sebagai pemukiman masyarakat adat Marga Keratuan Menangsi, sementara benteng lainnya masih terlihat dalam bentuk galangan tanah yang terbentang di beberapa titik sekitar kaki Gunung Rajabasa. Selain itu, terdapat pula situs Batu Alip, Batu Petapaan, Batu Aceh, dan sejumlah artefak bersejarah berupa keris, tombak, pedang, dan badik yang Hingga kini, mereka masih menjaga kelestarian adat istiadatnya secara turun-temurun.
Perwakilan Pengurus Nasional BEM PTNU, juga menyampaikan pandangan tentang betapa pentingnya membangun sinergitas antara unsur mahasiswa dan masyarakat adat.
Berikutnya, Melalui Koordinator Isu Pendidikan dan Budaya BEM PTNU, ia mengatakan silaturahmi ini juga menjadi sebuah ruang penyelarasan program kerja BEM PTNU Wilayah Lampung, khususnya di bidang pendidikan dan kebudayaan
Ia menegaskan komitmennya untuk menghadirkan program yang memperkuat literasi sejarah, merawat tradisi, serta menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal Lampung. dan berharap, untuk langkah ini dapat menjadi gerakan kolaboratif antara mahasiswa, akademisi, dan masyarakat adat.
Menjelang usai sesi dialog, BEM PTNU Wilayah Lampung bersama Pengurus Nasional BEM PTNU mendapat cinderamata berupa dua jenis buku yaitu Catatan Sejarah Singkat/Selayang Pandang Marga Keratuan Menangsi, dan buku Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Menjawab Sejarah, di serahkan langsung oleh Pangeran Cahya Marga Sai Batin Marga Keratuan Menangsi.
Pemberian buku sejarah memiliki filosofi mendalam. Hal ini menjadi simbol bahwa sejarah dan identitas adat tidak akan pernah berhenti pada satu titik, melainkan terus senantiasa hidup, berkembang, dan harus dilanjutkan oleh para generasi muda. BEM PTNU sebagai representasi mahasiswa diharapkan menjadi bagian dari proses penyempurnaan penulisan sejarah tersebut bukan hanya sebagai pembaca, tetapi juga sebagai pengemban amanah untuk menggali, merawat, dan menyebarluaskan kearifan lokal. Dengan demikian, pemberian buku ini bukan sekadar cenderamata, melainkan pesan simbolik bahwa sejarah Lampung adalah tugas kolektif yang belum tuntas, dan mahasiswa harus turut serta menuliskannya agar tidak hilang ditelan zaman.
Seusai dialog, para rombongan BEM PTNU melanjutkan ziarah ke Makam Keramat Ratu Menangsi, yang berlokasi di Dusun Taman Saka, Desa Padan, Kecamatan Penengahan, berposisi di kaki Gunung Rajabasa yang sudah tentu daerah tersebut termasuk dalam teritorial wilayah adat Marga Keratuan Menangsi.
Foto Generasi Muda Marga Keratuan Menangsi & Mahasiswa BEM PTNU ziarah ke Makam Keramat Ratu Menangsi
Kemudian mereka juga turut mengunjungi salah satu situs yaitu Batu Alip sebagaimana dipaparkan dalam diskusi mereka bersama sebelumnya, Rangkaian kegiatan ditutup dengan refleksi dan diskusi santai kawasan wisata alam Way Tebing Ceppa, pada tempat pemandian ini terdapat mata air alami sehingga menjadi sumber manfaat bagi masyarakat sekitar, juga berlokasi di Desa Taman Baru, wilayah adat marga keratuan menangsi.
Dipenghujung rangkaian agenda, BEM PTNU bersama masyarakat adat serta kalangan akademisi berencana menyusun dan meneliti bukti-bukti sejarah pada peninggalan yang ada. Selain untuk memperkuat literasi, merekapun berharap agar upaya tersebut dapat ditindaklanjuti pada pengusulan situs-situs peninggalan, juga kemudian terindikasi cagar budaya.
Disampaikan juga harapan oleh masyarakat adat, agar peninggalan sejarah tersebut untuk kiranya segera mendapatkan perlindungan hukum dan legitimasi dari pemerintah daerah maupun nasional. Dengan demikian, hal ini akan menjadi manifestasi besar dalam menjaga dan mempertahankan warisan para leluhur untuk generasi mendatang.