Perkuat Sinergi Wisata Budaya, Kadisparbud Lamsel dan Camat Penengahan Sambangi Marga Ratu Menangsi
LAMPUNG SELATAN - Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan kian serius dalam menggarap potensi pariwisata yang berbasis pada kekuatan adat dan kearifan lokal. Langkah nyata ini ditunjukkan oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Lampung Selatan, I Nyoman Setiawan, yang menggandeng Camat Penengahan, Hermawan, S.H., M.M., untuk melakukan kunjungan kerja strategis ke wilayah adat Marga Ratu Menangsi di Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan, pada Selasa (10/03/2026).
Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mempererat sinergi dan koordinasi dengan para tokoh adat (Sai Batin). Kehadiran Hermawan sebagai Camat Penengahan yang baru saja dilantik menjadi momentum penting untuk menyelaraskan program kerja pemerintah kecamatan dengan visi besar Disparbud dalam memetakan kembali potensi wisata sejarah serta kekayaan alam yang berada di wilayah teritorial Keratuan Ratu Menangsi.
Setibanya di lokasi, rombongan disambut dengan suasana penuh kekeluargaan oleh pemangku adat setempat. Pertemuan diawali dengan prosesi silaturahmi yang khidmat di Lamban Khanggal, yang merupakan rumah adat sekaligus pusat kebudayaan Marga Ratu Keratuan Menangsi. Di tempat ini, dialog mengenai pelestarian nilai-nilai tradisional menjadi poin utama guna memastikan pembangunan pariwisata ke depan tetap berpijak pada akar budaya yang kuat.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan silsilah leluhur, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan prosesi ziarah ke makam Ratu Menangsi. Ziarah ini bukan sekadar ritual formal, melainkan simbolisasi rasa hormat terhadap tokoh-tokoh besar masa lalu yang telah membentuk identitas masyarakat Lampung Selatan. Hal ini sekaligus menekankan bahwa wisata religi dan sejarah memiliki posisi sentral dalam pengembangan destinasi di wilayah tersebut.
Tak hanya menonjolkan aspek historis, rombongan juga melakukan peninjauan langsung ke destinasi wisata alam Way Tebing Ceppa. Objek wisata yang dikenal dengan pemandian alamnya yang asri ini merupakan salah satu kekayaan alam unggulan yang berada di wilayah adat Marga Ratu Menangsi. Peninjauan ini bertujuan untuk melihat sejauh mana fasilitas dan daya tarik alam tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut tanpa merusak ekosistem aslinya.
Kegiatan kunjungan kerja ini kemudian diakhiri dengan diskusi santai namun produktif di area pemandian Way Tebing Ceppa. Dalam suasana yang lebih rileks, Kadisparbud dan Camat Penengahan bersama para tokoh adat membahas langkah-langkah kolaboratif dalam mengelola potensi lokal agar mampu menarik lebih banyak wisatawan, sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat tanpa meninggalkan prinsip-prinsip adat.
Kunjugan ini merefleksikan sebuah filosofi penting bahwa sejarah tidak hanya dibaca dan ditafsirkan sepintas. Sejarah sejatinya hidup melalui arsip fisik, jejak tapak tilas, dan memori kolektif masyarakat yang terjaga hingga kini. Untuk memahami kebenaran sejarah yang utuh, diperlukan kerendahan hati bagi setiap pihak agar datang, melihat, dan meneliti secara langsung
(Ben)