Gunung Rajabasa "Batuk", Tokoh Adat Lampung Selatan Desak Aksi Nyata Pemerintah

Gunung Rajabasa "Batuk", Tokoh Adat Lampung Selatan Desak Aksi Nyata Pemerintah

LAMPUNG SELATAN - Prahara tanah longsor yang mengguncang kawasan Gunung Rajabasa memicu reaksi dari para pemangku adat, praktisi hukum, sampai Koalisi Ormas dan LSM di Lampung Selatan, sehingga menggelar pertemuan yang berlokasi di Lamban Balak Saibatin Makhga Legun, Rabu (1/4/2026), 

Mereka sepakat mengeluarkan pernyataan sikap bersama agar pemerintah segera menangani peristiwa tanah longsor tersebut yang terjadi baru-baru ini

Pertemuan tersebut bukan sekadar silaturahmi biasa. Kehadiran tokoh-tokoh kunci seperti Azhar Marzuki gelar adok Pangikhan Tihang Marga (Sai Batin Marga Legun), David Merison gelar adok Pangikhan Punyimbang Agung (Sai Batin Makhga Rajabasa), Syamsuri gelar adok (Panglima Alif Jaya), Sopiyan gelar adok Temenggung Nimbang Makhga (Kebandakhan Way Ukhang), Budi Setiawan (Khadin Paksi Setia Makhga Marga Rajabasa), Ramli gelar adok Silom Singa Langkung (Maga Dantaran). dan sejumlah tokoh adat yang lainnya, menunjukkan betapa seriusnya ancaman alam yang sedang terjadi.

Budi Setiawan (Khadin Paksi Setia Makhga), selaku juru bicara musyawarah, menegaskan bahwa pemerintah daerah dan provinsi terutama Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup harus segera menindaklanjuti tanah longsor 

"Kami tokoh adat dan para saibatin serta para tokoh adat dari ormas, menyatakan sikap atas kejadian peristiwa tanah longsor di gunung rajabasa yang terjadi pada beberapa titik, sehingga kami menghimbau kepada pemerintah daerah dan pemerintah provinsi, khususnya dinas Kehutanan dan lingkungan hidup, agar segera menyikapi agar tidak terjadi hal serupa di kemudian hari" Tegasnya

Selain itu, Wakil Ketua DPRD Lampung Selatan, Bella Jayanti, saat diwawancara Rajabasapos.id menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas musibah longsor yang menghantam dua titik vital di lereng gunung tersebut. Mewakili institusi legislatif sekaligus secara pribadi, Bella menegaskan bahwa tragedi ini menjadi perhatian serius bagi seluruh elemen daerah.

"Yang utama saat ini adalah memastikan keselamatan masyarakat dan percepatan penanganan di lapangan" tegas srikandi DPRD dari Dapil Kalianda-Rajabasa tersebut. 

Bella mendesak Pemerintah Daerah dan instansi terkait untuk segera melakukan akselerasi penanganan di lokasi bencana. Tak hanya soal evakuasi, ia menuntut evaluasi total terhadap sistem mitigasi dan peringatan dini di kawasan rawan Gunung Rajabasa agar petaka serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Di tengah situasi genting ini, legislator Lampung Selatan tersebut menghimbau agar masyarakat tetap dalam level kewaspadaan tinggi. Bella menjamin bahwa DPRD tidak akan tinggal diam dan akan terus mengawal proses penanganan hingga masyarakat benar-benar mendapatkan perlindungan serta bantuan maksimal.

Sebagai langkah nyata dalam memulihkan ekosistem yang rusak, Bella mengungkap bahwa dirinya telah berkoordinasi intensif dengan pihak kehutanan. Direncanakan pada pekan depan, personel Polisi Hutan (Polhut) akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan tinjauan teknis sekaligus memulai aksi penghijauan kembali.

"beberapa waktu lalu saya sudah jalin komunikasi juga dengan pihak kehutanan, insya Allah dalam waktu dekat (kemungkinan di minggu depan), akan ada tinjauan kembali yang dilakukan Polhut sekaligus kegiatan penanaman ulang bibit Pohon Beringin, Kami memohon doa dari seluruh masyarakat agar rencana ini berjalan lancar dan didukung oleh cuaca yang bersahabat" Pungkasnya optimis

Secara terpisah, Kepala KPH Way Pisang, Wahyudi, mengonfirmasi telah terjadi rentetan tanah longsor di kawasan hutan lindung tersebut. Fenomena alam ini kini menjadi sorotan tajam setelah penampakan visual dari Kota Kalianda menunjukkan adanya perubahan drastis pada tutupan lahan di area puncak.

Wahyudi mengungkapkan bahwa titik longsor ini sebenarnya bukan barang baru. Jejak kerusakan sudah terdeteksi sejak beberapa tahun sebelumnya, namun saat itu skalanya masih sangat kecil dan tersembunyi.

"Kami sudah memantau sejak tahun sebelumnya melalui perubahan fisik lahan yang terlihat dari Kalianda. Tim Polhut dan kelompok masyarakat di Desa Sumber Kumbang langsung kami terjunkan untuk investigasi," ujar Wahyudi.

Puncaknya, pada akhir tahun lalu hingga menjelang Lebaran kemarin, intensitas hujan yang ekstrem memicu longsoran yang jauh lebih besar. Berdasarkan pemetaan terkini, dimensi longsoran diperkirakan mencapai 0,1 hingga 0,2 hektare, atau memanjang sekitar 50 hingga 100 meter.

Isu miring mengenai adanya aktivitas penebangan liar (illegal logging) langsung ditepis tegas oleh pihak KPH. Investigasi lapangan menunjukkan:

Zero Human Activity: Tidak ada jejak petani penggarap atau aktivitas budidaya manusia di titik longsor.

Topografi Ekstrem: Lokasi kejadian memiliki kemiringan yang hampir tegak lurus menyerupai dinding raksasa.

Struktur Tanah Rapuh: Kondisi batuan dasar yang rapuh tak kuasa menahan gempuran debit air hujan yang tinggi.

KPH Way Pisang memperingatkan bahwa longsor susulan masih berpotensi terjadi. Alam saat ini sedang mencari titik stabilnya sendiri. Meski demikian, warga di kaki gunung diminta tetap tenang namun waspada.

"Secara geografis, ada bukit penghalang yang membentengi permukiman warga dari jalur longsoran. Informasi sementara, material longsor diperkirakan tidak akan langsung menyentuh pemukiman penduduk," tambahnya.

KPH akan mengerahkan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) untuk melakukan penghijauan kembali di area yang memungkinkan.

Pihak KPH Way Pisang berencana kembali turun ke lapangan dalam waktu dekat untuk menentukan titik koordinat penanaman bibit secara presisi

(Ben)