UMKM Buak Balak Bunda Herni di Desa Gedung Harta Banjir Orderan Menjelang Lebaran
LAMPUNG SELATAN – Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 H yang jatuh pada tahun 2026, permintaan terhadap kue tradisional khas Lampung Selatan, Buak Balak, mengalami kenaikan signifikan. Fenomena ini dirasakan langsung oleh Herniansyah, atau akrab dipanggil Bunda Herni, seorang pengusaha UMKM asal Desa Gedung Harta, Kecamatan Penengahan, Sabtu (14/3/2026).
Wanita asli Penengahan ini mengungkapkan bahwa pesanan Buak Balak datang bertubi-tubi dari pelanggan setia. Tercatat untuk musim Lebaran kali ini, total pesanan yang masuk sudah menyentuh angka 380 loyang, di mana mayoritas pemesan telah melakukan pesanan sejak beberapa waktu lalu.
“Hingga saat ini, pesanan Buak Balak untuk hari raya sudah sekitar 380 loyang. Sebagian besar konsumen memang sudah memesan dari jauh-jauh hari,” tutur Bunda Herni.
Secara harfiah, Buak Balak merupakan kudapan tradisional masyarakat Lampung yang bermakna "kue besar". Dalam tradisi lokal, kue ini menjadi hidangan wajib dalam prosesi adat maupun pesta pernikahan, khususnya sebagai suguhan bagi keluarga besar dan tamu besan.
Bunda Herni memaparkan bahwa harga jual kue ini cukup beragam, menyesuaikan dengan kuantitas dan jenis telur yang dipilih. Untuk varian 20 butir telur ayam ras dibanderol Rp130.000, sementara untuk porsi 30 butir telur dihargai Rp180.000.
Bagi pelanggan yang lebih menyukai penggunaan telur bebek, harga dipatok mulai dari Rp150.000 untuk isi 20 butir hingga Rp200.000 untuk isi 30 butir.
“Biasanya pelanggan langsung mengambil kue yang sudah jadi di rumah. Namun, kami juga menyediakan layanan antar gratis bagi mereka yang berhalangan untuk datang,” imbuhnya.
Guna menyiasati tumpukan pesanan selama Ramadan, Bunda Herni kini menggandeng delapan orang tetangga dan kerabat sebagai tenaga bantuan tambahan dalam proses produksi.
Dalam satu hari operasional dari pagi hingga sore, tim tersebut mampu merampungkan produksi sekitar 50 sampai 60 loyang Buak Balak.
Durasi pembuatan satu loyang kue ini tergolong lama, yakni memakan waktu sekitar 3 hingga 4 jam per cetakannya.
Menariknya, Bunda Herni masih mempertahankan metode masak tradisional menggunakan tungku kayu bakar atau serbuk kelapa, yang memberikan hasil akhir tekstur kue yang renyah di luar namun tetap lembut di dalam.
Kombinasi bahan utama seperti telur, gula, vanila, terigu, margarin, serta tambahan bubuk kayu manis menciptakan aroma dan cita rasa otentik yang khas pada kuenya.
Sebagai penggerak ekonomi di desanya, Bunda Herni turut memotivasi para ibu rumah tangga lainnya untuk menangkap peluang bisnis Buak Balak, mengingat tingginya minat pasar sementara produsennya masih cukup jarang.
“Permintaan pasar sangat tinggi, tetapi pengrajinnya masih minim. Saya sendiri sering terpaksa menolak pesanan karena keterbatasan kapasitas produksi,” katanya jujur.
Ia mengaku bahwa bisnis rumahan ini telah memberikan keuntungan finansial yang menjanjikan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi keluarganya.
Sebagai penutup, Bunda Herni mengimbau para calon pembeli agar tidak memesan secara mendadak demi menjamin kualitas kue dan kepastian ketersediaan pesanan.
“Kami sangat menyarankan pemesanan dilakukan lebih awal agar semua permintaan bisa kami layani secara optimal,” tutupnya.